Perspektif tentang pengalaman pasca-perjanjian
Tarmizi, Direktur Forum Masyarakat Aceh
Ketika saya masih mahasiswa, saya bergabung dengan gerakan menentang Soeharto. Pada masa darurat militer saya melarikan diri ke Malaysia dan bekerja untuk pusat pengungsi Aceh di sana. Saya sekarang kembali ke Banda Aceh dan adalah Direktur Forum Masyarakat Aceh, sebuah LSM payung di Aceh yang bergelut dengan isu-isu politik, pembangunan dan partisipasi masyarakat sipil.
Persoalan politik terkini di Aceh adalah di seputar pembentukan GAM menjadi partai politik dan juga di seputar lemahnya inklusivitas GAM. Terdapat perasaan bahwa mereka yang merasa tersingkir akan menggerakkan pemberontakan. Akan sangat berbahaya jika pemerintah dan para pemimpin GAM tidak menyelesaikan persoalan ini. Saya pikir pemerintah Indonesia ikut menyumbang terhadap perpecahan di dalam tubuh GAM dengan berpikir bahwa hal tersebut akan dapat melemahkan GAM. Namun tentunya tidak seperti itu. Setelah mereka mengalami perpecahan, akan ada banyak faksi-faksi dan setiap faksi akan merekrut orang-orang yang bahkan sebelumnya tidak pernah terlibat.
Program reintegrasi hanya menguntungkan sekelompok elit GAM. Hal ini akan dapat menimbulkan konflik horizontal di tingkat desa. Saya pikir mereka harus mengubah program-program tersebut—laksanakan program pembangunan daerah di wilayah-wilayah yang terkena dampak konflik, membangun infrastruktur, menciptakan aktifitas ekonomi skala kecil. Sayang sekai saat ini mereka hanya memprioritaskan pada sebagian orang.
Tidak terdapat cukup banyak aktivis-aktivis masyarakat yang terlibat. Kelompok masyarakat sipil intelektual tidak diizinkan untuk berkontribusi. GAM memiliki program yang stagnan—satu-satunya program mereka dulunya adalah kemerdekaan. Dulu ada proses begitu lama membentuk kesadaran kesadaran para kombatan GAM akan tujuan dari kemerdekaan Aceh. Proses perdamaian menghentikan pemikiran ini. Ini memerlukan waktu agari mereka bisa terlibat dalam proses pembangunan dalam suasana dan konteks baru. Kita perlu mengubah pemikiran mereka. Kita harus menyediakan training-training, memberikan mereka berbagai ide baru.

Rusyidah H. Mahmud, dari Bireuen
Setelah dua saudara laki-laki saya terbunuh, saya didekati oleh pemimpin GAM untuk bergabung bersama gerakan ini dan mendapatkan latihan militer selama dua bulan pada tahun 2000. Saya bergabung dengan GAM karena saya inin membela Aceh dan harga diri rakyat Aceh dan membalas dendam atas pembunuhan keluarga saya. Saya tidak ingin Aceh ditekan kembali lagi selamanya.
Karena perjanjian damai lah saya bisa kembali menjadi orang biasa, kembali dan hidup dengan damai. Saya juga dapat kembali bekerja dan memulai usaha kecil saya. Saya sangat bahagia dengan proses perdamaian ini. Namun yang menjadi perhatian saya adalah masih banyak orang yang belum diperhatikan. Sebagian orang telah menerima bantuan, namun banyak yang masih belum. Saya mendapatkan uang dari program reintegrasi. Saya memperoleh Rp 10 juta untuk memulai usaha kecil saya. Saya sudah mulai ikut kursus mode pakaian dan cara membuatnya. Saya berharap dapat menerima bantuan untuk dapat membangun usaha dengan keterampilan yang saya dapatkan dari kursus tersebut.
Sejak saya bergabung dengan koperasi ini milik Teungku Nashiruddin, kami telah lebih teratur dan mendapatkan dukungan. Namun masih banyak mantan pejuang wanita GAM (inong balee) yang belum mendapatkan perhatian. Secara umum, inong balee belum mendapatkan bantuan, terutama di daerah ini. Saya memang mendengar ada inong balee yang telah dibantu di daerah-daerah lain.
Tidak semuanya memuaskan. Tidak semua janji sudah dilaksanakan. Khususnya berkaitan dengan keadilan. Anak-anak dari abang saya yang sudah meninggal karena konflik belum menerima bantuan apapun. Sepertinya tidak ada masa depan buat mereka.
Top | Aceh | Daftar isi
