Perspektif tentang proses perdamaian Aceh
Nashiruddin adalah kepala perwakilan GAM dan perunding selama Jeda Kemanusiaan dan Persetujuan Penghentian Permusuhan
Persetujuan perdamaian adalah sebuah kenyataan dan menurut saya para anggota GAM menerima itu. Benar kami bisa berjuang, tapi kami tidak yakin bahwa kami akan menang dalam perang. Perang seperti apa itu? Hanya perang untuk perang. Kita punya MoU, jadi kenapa tidak kita menggunakan waktu kita untuk belajar bagaimana mengatur negara kita, daripada bertarung dan berperang.
Misi pemantau Aceh sudah melakukan perkerjaan yang bagus tapi meninggalkannya terlalu cepat. Mereka tidak mau mengambil berbagai risiko. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka sudah melakukan tugas yang baik dalam waktu yang sangat singkat – dan mereka pikir jika mereka tinggal disini lebih lama, kesuksesan misi mereka akan dipertanyakan!
Langkah utama yang diperlukan sekarang yakni melaksanakan persetujuan tersebut dan mensosialisasikannya – karena banyak orang tidak tahu detail-detail MoU. Tanpa sosialisasi MoU, mungkin kelompok lain akan datang dengan ide-ide yang bisa merusak perdamaian, sebuah kelompok yang membicarakan tentang kemerdekaan dan mengajak masyarakat untuk mengikuti mereka. Juga masyarakat mendapat manfaat dari perdamaian. Ini penting, karena jika mereka beruntung, mungkin kemudian meraka tidak akan dibujuk oleh kelompok-kelompok tertentu. Kuncinya adalah ekonomi dan keadilan politik.
Kita berharap para kelompok garis keras tidak menang pemilu 2009 di Indonesia. Hal itu akan mempengaruhi proses perdamaian, tapi itu juga akan tergantung pada komuniti internasional dan tekanan meraka terhadap Indonesia. Komuniti internasional tidak hanya berpikir tentang perdamaian, tapi mereka juga tertarik dengan apa yang bisa mereka dapatkan dari perdamaian – itulah manusia, itu alami.
Mukhtar Hassan, dari Jangka Bireuen
Saya seorang guru, tapi kemudian saya bergabung dengan GAM. Proses perdamaian sudah membawa keamanan, tak ada lagi rasa takut. Seperti yang lain, saya sudah bisa pulang ke rumah, untuk memulai pekerjaan saya. Tanpa berperang, saya bisa bekerja.
Sudahkah proses tersebut membawa keadilan? Jika kita berbicara tentang keadilan, tidak, itu bukan adil, dunia bukan tempat untuk adil. Bagaimanapun, jika semua poin dalam persetujuan perdamaian dilaksanakan sepenuhnya, saya akan senang dengan proses tersebut. Tapi kuncinya adalah bahwa semua poin harus dilaksanakan, khususnya di pemberdayaan ekonomi para mantan pejuang. Disamping ekonomi, harus ada fasilitas pendidikan bagi anak-anak yatim dan bantuan bagi keluarga mantan pejuang. Itu akan membuat banyak mantan pejuang GAM senang dan bisa menghapus kenangan masa lalu.
Dalam masa reintegrasi, dalam prakteknya ada diskriminasi. Sebagian beruntung dan sebagian tidak mendapat dukungan sama sekali. Saya belum senang karena saya ingin seluruh kelompok masyarakat Aceh dibantu. Ekonomi harus diperuntukkan untuk meningkatkan penghasilan per kapita, pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat lokal. Tanpa ini akan ada masalah jangka panjang. Banyak proyek bantuan ekonomi harus di organisir. Saya berharap itu akan dilaksanakan.
Saya masih berkomunikasi dengan para sahabat mantan GAM saya. Tapi aktifitas saya sekarang lebih untuk meningkatkan taraf hidup saya. Apa yang saya inginkan bagi diri saya dan orang lain dalam waktu jangka panjang yakni yang pemimpin Aceh bertanggungjawab dalam mengatasi masalah kemiskinan di Aceh, tanpa ada jarak antara penduduk desa dan area perkotaan. Tidak ada lagi pengulangan kejadian buruk di masa lalu. Aceh sangat kaya, kita berhak menerima yang lebih baik.
Top | Aceh | Daftar isi
